Melestarikan Lingkungan Hidup dan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

SEMINAR PAROKI HIJAU

Sobat muda Katolik tahu tidak kalau Indonesia mendapat sebuah prestasi lagi ?? Tapi bisa dibilang bukan sebuah prestasi yang membanggakan sich, bisa dikatakan prestasi yang mengkhawatirkan.

Prestasi apakah itu?? Indonesia mendapatkan prestasi peringkat ke-2 di Dunia sebagai penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Tidak tanggung-tanggung sekitar 3.2 juta ton sampah plastik di lautan setiap tahunnya (berdasarkan www.loop.co.id / 20 Feb 2019). Indonesia juga tercatat menggunakan 93 juta batang sedotan plastik setiap harinya (berdasarkan www.viva.co.id / 20 Sept 2018), bisa dibayangkan sobat muda katolik kalau dalam 1hari saja 93 juta batang, kalau dalam sebulan berapa? Lalu dalam 1 tahun berapa milyar batang sedotan yang terpakai dan juga terbuang sia – sia, bahkan mungkin juga terbuang sia – sia di laut, memenuhi sampah – sampah plastik di laut.

Menyikapi kekhawatiran akan masalah sampah plastik yang ada di negara kita ini, minggu lalu tepatnya tanggl 1 September 2019 bertempat di Gereja Paroki Santo Andreas Sukaraja Bogor, team Paroki Hijau menyelenggarakan “Seminar Paroki Hijau : Melestarikan Lingkungan Hidup dan Gaya Hidup Ramah Lingkungan”. Kegiatan ini sebagai salah satu tindakan nyata Team Paroki Hijau dalam membangun Paroki kita tercinta ini untuk menjadi Paroki Hijau di Keuskupan Bogor, dan juga sebagai paroki percontohan untuk paroki – paroki di wilayah Keuskupan Bogor. Seminar ini diadakan agar dalam membangun Paroki Hijau kita terlebih dahulu harus membangun dahulu pribadi – pribadinya dalam menyikapi penggunaan plastik dan mengelola sampah plastik tersebut.

Mengundang Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya Ibu Rosa Vievien Ratnawati, SH, M. Sd, seminar yang diadakan hanya dalam waktu 2 jam ini menggugah sekitar 200 orang peserta seminar yang hadir tentang keprihatinan kita semua akan sampah plastik yang dihasilkan oleh negara kita. Sobat muda Katolik sebagai anggota gereja bukan umat yang beriman namanya jika kita tidak ambil aksi nyata untuk mengelola dan mengurangi produksi sampah yang dihasilkan negara kita ini. Aksi nyata walau sekecil apapun yang kita lakukan, dimulai dari diri kita dahulu akan sangat berdampak besar bagi keberlangsungan lingkungan hidup kita ini.

Dalam seminar itupun Ibu Rosa Vieiven dan team memberikan berbagai macam cara yang kita bisa lakukan untuk mengelola sampah mulai dari yang lingkup kecil yaitu sampah yang kita hasilkan sendiri dan sampah rumah tangga.

Salah satunya adalah dengan memisahkan sampah rumah tangga antara sampah organik dan sampah non-organik atau sampah plastik. Lalu sampah organik bisa kita kelola agar menjadi pupuk kompos, salah satu caranya dengan mengubur sampah-sampah organik tersebut di dalam tanah sehingga terjadi pembusukan dan menjadi kompos. Jika sobat muda Katolik mengikuti seminar kemarin pasti tahu bagaimana caranya, nahh…bisa lho sobat muda Katolik mencobanya di rumah.

Lalu bagaimana dengan sampah – sampah yang   non-organik? Dalam seminar itupun kita diberikan cara agar sampah – sampah, terutama sampah plastik yang tadinya tidak bernilai ekonomis bisa menjadi bernilai ekonomis, caranya dengan dikumpulkan di Bank Sampah. Tapi bagaimana caranya agar sampah – sampah tersebut bisa kita salurkan melalui Bank Sampah? Nah… Sobat muda Katolik, jika Seminar Paroki Hijau kemarin adalah langkah awal kita sebagai warga Paroki Santo Andreas Sukaraja, Bogor dalam menyadarkan kita semua (termasuk sobatsobat muda Katolik nich…) akan sampah – sampah yang kita hasilkan selama ini maka kita akan tunggu aksi – aksi berikutnya dari Team Paroki Hijau dalam menindaklanjuti cara – cara pengelolaan sampah, terutama khususnya dalam wilayah Paroki Santo Andreas terlebih dahulu melalui Bank Sampah.

Jadi sobat muda Katolik, kitapun bisa memulai dari sekarang, dari saat ini, dari diri kita sendiri dahulu, untuk berperan aktif dalam mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai seperti mengganti plastik kresek dengan tas belanja ramah lingkungan ketika berbelanja di minimarket atau supermarket, mengurangi pemakaian sedotan plastik, mengurangi penggunaan botol plastik menjadi tumbler, dan aksi-aksi nyata lainnya yang mendukung berkurangnya produksi sampah plastik. Kita harus bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup negara kita tercinta Indonesia agar keberlangsungan alam Indonesia semakin terbarukan dan diperbaiki. Apapun yang ingin kita lakukan dengan sesutau yang bersifat plastik kita harus selalu ingat pesan Ibu Vievien “berpikirlah terlebih dahulu sebelum bertindak”. Tuhan memberkati kita semua. (Red)

Leave a Reply