Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf (1Sam 1:20-22,24-28 ; 1 Yoh. 3:1-2.21-24 ; Luk. 2:41-52)
Jangan pernah meremehkan intuisi seorang ibu. Bacaan Injil hari ini mengkisahkan bagaimana Bunda Maria dan Yusuf suaminya pergi bersama Yesus untuk melaksanakan adat kebiasaan mereka sebagai orang Yahudi yaitu berdoa di Yerusalem. Dalam perjalanan pulang didapati bahwa Yesus tidak bersama mereka. Sebagai seorang ibu, Bunda Maria pasti tahu akan keberadaan anaknya itu. Maka, Bunda Maria berhenti bertanya- tanya tentang semua arti kejadian ini. Demikian pula ketika berjumpa kembali dengan anaknya, Bunda Maria menyimpan semua peristiwa itu dalam hatinya.

Sebagaimana Lukas menarasikan pengalaman Bunda Maria dalam kisah Yesus yang hilang dan ditemukan kembali. Ada hal yang menarik bagi saya yaitu Bunda Maria orang yang bijaksana. Tidak ada hal sekecil apapun yang luput dari perhatiannya. Oleh karena itu, hidup yang terus direfleksikan dan direnungkan merupakan hidup yang bernilai. Hidup kontemplasi yang ditunjukan oleh Bunda Maria dengan tidak banyak berkata-kata ini menggambarkan betapa sabarnya Bunda Maria menanggapi dan menjalani peristiwa tersebut. Bunda Maria memberi contoh dan teladan kepada kita betapa pentingnya tanggapan dan reaksi yang tidak berlebihan terhadap suatu peristiwa hidup yang kita alami. Dalam segala peristiwa hidup biarkan karya Roh Kudus yang menyentuh dan bekerja bagi kita.

Natal merupakan salah satu peristiwa besar iman kita. Maka dari itu Natal adalah perayaan di mana kita harus diam sejenak memposisikan diri untuk Allah bekerja dalam hidup ini yaitu membiarkan Roh Tuhan mengembalikan daya ilahinya atas kita. Natal adalah peristiwa untukmengisi ulang akan Roh Allah. Jika Anda berpikir bahwa Anda dapat melewati Natal tanpa semacam evaluasi ulang, semacam reorientasi yang signifikan, atau, paling tidak, beberapa pertanyaan mengenai komitmen sebagai anak-anak Allah. Pada Pesta Keluarga Kudus ini, Bunda Maria mengundang kita untuk meluangkan waktu sejenak untuk merenung dan mengkontemplasikan hidup iman kita di ruang yang sunyi. Di ruang di mana tempat bagi kita untuk merenungkan tujuan hidup kita dalam Tuhan.

Dalam kalender liturgi, masa natal begitu singkat namun dirayakan begitu meriah. Sementara di seluruh dunia sudah sibuk mempersiapkan menyambut pergantian akhir tahun. Masa Natal begitu terlalu cepat dan kita akan siap-siap dengan menyambut masa biasa lagi. Tetapi masa Natal yang terlalu cepat itu jangan sampai kita lupa untuk hening dan diam sejenak merenungkan makna Natal dalam hidup ini. Bunda Maria mengingatkan kepada kita untuk melihat ke dalam batin kita akan kehadiran Tuhan dalam rupa bayi yang kecil, mungil dan lemah yang berbaring di palungan. Dia yang lahir bagi kita sebagai Sang Juru Selama yaitu Immanuel: Allah berserta kita. Maka Keluarga Kudus dari Nazaret ini memberi teladan bagi keluarga kita untuk membangun relasi dan kedekatan di dalam Tuhan.

Bacaan-bacaan Minggu ini mengundang kita untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk merenung, pergi ke suatu tempat untuk berdoa dan kontemplasi. Tempat yang jauh dari kemeriahan dan keramaian pesta Natal. Sebagaimana Keluarga Nazaret pergi ke Yerusalem untuk berdoa. Pergi ke tempat di mana Tuhan hadir dalam diri kita. Diam dan duduk untuk berbicara dari hati ke hati kepada Tuhan. Tanpa ada suara atau obrolan kata-kata, tanpa ada interupsi atau sanggahan, tanpa ada sikap pembelaan atau menyalahkan. Namun yang terjadi adalah hanya diam dan diam.

Mungkin selama ini waktu yang sudah diberikan Tuhan kepada kita hanya digunakan untuk diri sendiri sedangkan waktu untuk Tuhan dan waktu untuk keluarga serta orang yang kita cintai sedikit atau mungkin tidak ada sama sekali. Kita menjadi egois dengan waktu kita sendiri sehingga lupa kepada Dia yang memberikan. Maka, saatnya sebelum pergantian akhir tahun ini kita diminta untuk memberikan waktu bagi Tuhan dalam keheningan ruang. Kesempatan untuk merenungkan hidup bersama Tuhan Allah selama ini. Waktu bersama Tuhan dalam meditasi dan renungan. Waktu bersama Tuhan adalah sebuah undangan bagi mereka yang ingin mengalami kedekatan dan kemesraan bersama Dia Sang pemilik waktu tersebut. Dan waktu bersama keluarga dalam doa dan kebersamaan.

Masa Adven sudah kita lalui dan saat ini kita merayakan masa Natal. Jangan sampai dua masa ini berlalu begitu saja tanpa ada arti dan makna bagi kita atau hanya sebagai rutinitas akhir tahun dalam kalender liturgi Gereja. Natal adalah lahir kembali menjadi manusia baru dalam Kristus sebagaimana Yesus hadir di tengah dunia dalam rupa bayi mungil. Maka, Natal adalah kesempatan untuk menyambut Kristus sebagai Sang Juru Selamat kita dan hidup di dalam Dia. Selamat Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Semoga Damai Natal membawa Sukacita bagi kita semua. (RD. Paulus Pera)

Leave a Comment